Selasa, 02 Juli 2013

Kepemimpinan


                             Konsep ajaran Nitisastra yang terdapat dalam bentuk Cerita yaitu :

1.      Dalam cerita Mahabharata ( Adiparwa ).
Yaitu pada saat Raja Sentanu mengangkat Dewa Bharata atau Bhisma untuk menjadi putra mahkota mendampingi ayahnya sebelum resmi mengundurkan diri. Suatu ketika raja Sentanu jatuh cinta dengan Satyawati, Satyawati mau dikawini kalau anak dari perkawinannya dapat naik tahta. Agar perkawinan itu bisa berlangsung Dewa Bharata (Bhisma) melepaskan haknya menjadi raja dan bersumpah untuk tidak akan kawin, agar tahta kelak tidak diperebutkan oleh keturunannya.
Dari cerita diatas Bhisma adalah tokoh yang sangat hormat kepada orang tuanya, yang terbukti dari pilihannya untuk melepaskan haknya sebagai raja, agar ayahnya bisa kawin dengan Satyawati, dalam peristiwa ini Bhisma ini adalah profil tokoh yang berani mengambil resiko, karena memang dia tahu bahwa hidup ini kadang – kadang harus menghadapi suatu resiko atau berhadapan dengan hal – hal yang tidak mengenakkan. Setiap keputusan ada resikonya, konsekwensinya pasti akan timbul kecemasan. Namun kalau tidak berani mengambil resiko, berarti manusia itu telah meniadakan eksistensinya sendiri. Dari hal tersebut tergambar bahwa Bhisma adalah tokoh yang mampu melihat akibat jauh dari keputusannya. Jadi disini hendaknya seorang pemimpin dapat meniru hal yang dilakukan oleh Bhisma yaitu ia berani mengambil keputusan dan mengambil resiko serta dapat melihat akibat jauh dari keputusan yang diambilnya.
2.      Dalam cerita Ramayana ( Ayodhyakanda ).
Yaitu pada saat Sang Dasaratha yang merasa dirinya sudah tua, karenanya ia hendak menyerahkan mahkotanya kepada Rama. Datanglah Kaikeyi yang mengingatkan Dasaratha, bahwa ia masih berhak mengajukan permintaan yang mesti dikabulkan oleh raja. Pertama Kaikeyi minta bukan Rama yang diangkat menjadi raja melainkan anaknya yaitu Bharata. Permintaan yang kedua supaya Rama dibuang ke hutan selama 14 tahun. Dasaratha memang pernah berjanji kepada Kaikeyi yaitu meluluskan dua permintaan atas imbalan jasanya yang telah menyelamatkan dirinya dari bahaya serangan musuh. Hanya saja Kaikeyi belum mengemukakan permintaannya dan baru ditagih menjelang penobatan Rama menjadi raja. Dasaratha menjadi sangat sedih, sebab terombang – ambing antara kecintaannya kepada Rama dan di pihak lain ia pun harus setia kepada janjinya.
Dari cerita diatas, dapat ditarik suatu hal yaitu seorang pemimpin harus setia pada janji yang pernah ia katakan. Seorang pemimpin harus menepati janji dan hendaknya tidak mengobral janji kepada siapapun. Seperti cerita di atas Sang Dasaratha menepati janjinya kepada Kaikeyi walaupun ia berat untuk meluluskan janji yang pernah ia janjipada Kaikeyi.
3.      Dalam cerita Ramayana ( Balakanda ).
Yaitu pada saat Rsi Wiswamitra yang meminta agar Rama dan Laksmana  menjaga pertapaan yang sering diganggu oleh para raksasa. Akhirnya Rama dan Laksmana berangkat mengikuti Rsi Wiswamitra. Rama dan Laksmana berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Para raksasa yang menyerang pertapaan misalnya dipimpin oleh Marica berhasil dikalahkan, bahkan banyak raksasa yang tewas. Karena itu pertapaan menjadi aman, sehingga para petapa dapat melaksanakan kembali ibadahnya dengan baik.
Dari cerita di atas, seorang pemimpin seharusnya dapat memberikan rasa aman kepada rakyatnya. Dapat menyelamatkan rakyatnya dari musuh – musuh  yang menyerang negara yang ia pimpin, dan seorang pemimpin harus menjalankan tugas, kewajiban dan wewenangnya dengan baik.
4.       Dalam Kekawin  Arjuna Wiwaha

Dikisahkan bahwa ada seorang Raksasa yang sangat sakti yang bernama Niwatakawaca, raksasa itu telah mempersiapkan diri untuk menyerang Surga, karena Raksasa tersebut tidak dapat dikalahkan oleh Dewa manapun, akhirnya Dewa Indra mengutus bantuan dari seorang manusia untuk menghadapi kesaktian Raksasa itu, orang tersebut adalah Arjuna, arjuna pada saat itu sedang bertapa di Gunung Indrakila, untuk dapat meyakinkan kekuatan arjuna meka Dewa indra mengutus dua bidadari untuk menguji tapa Arjuna bidadari itu adalah Suprabha dan Tilotama yang sangat cantik-cantik, namun usaha tersebut gagal karena Arjuna tidak berhasil di goda oleh mereka berdua. Lalu Dewa indra turun ke bumi dengan wujud seorang Tua Bijak menemui Arjuna, karena Dewa indra masih menyangsikan tujuan dari arjuna bertapa adalah seolah-olah untuk memperoleh kekuasaan dan kebahagiaan diri sendiri, maka Dewa indra dalam wujud Orang tua bijak menanyakan tujuan dari pada arjuna melakukan Tapa tersebut, ternyata merupakan salah satu tujuan yag sangat mulia, dan indra pun mengatakan siapa sebenarnya orang tua bijak tersebut adalah penyamara Dari Indra.
Raja para Raksasa sudah mendengar bagaimana keadaan di Gunung Indrakila, akhirnya mengutus seorang Raksasa untuk menggangu tapa dari Arjuna, dengan wujud seekor babi hutan digunung Indrakila  babi itu membuat kakacauan dan akhirnya Arjuna bangun dan keluar dari gua dengan senjata panah, pada saat yang bersamaan Dewa siwa ada disana dengan wujud seorang pemburu dari salah satu sukuterasing, yaitu orang-orang kirata, panah arjuna dengan pemburu tersebut dengan bersamaan mengenai babi tersebut, sehingga terjadi perselisihan antara pamburu tersebut dengan pemburu yaitu memperebutkan siapa yang mengenai babi tersebut, sampai akhirnya Dewa Siwa menunjukkan Wujd aslinya yang berwujud Ardanariswara yaitu dewa yang setengah laki dan setengah perempuan diatas bunga teratai. Arjuna pun bersujud dan minta pengampunan dari beliau. Dan akhirnya Arjuna di anugrahi sebuah panah yang disebut Pasupati.
Setelah dewa siwa pergi, kemudian datanglah  dua apsara yaitu “makhluk yang berwujud setengah dewa setengah manusia”, yang membawa sepucuk surat utusan dari dewa indra yang isinya adalah agar arjuna bersedia membantu dewa indra untuk bisa mengalahkan Niwatakawaca. Istana dewa indra arjuna beserta Para dewa membincang bagaimana cara mengalahkan Raksasa itu, karena Raksasa tersebut dapat dikalahkan apabila dapat mengetahui kelemahannya, dan akhirnya di utuslah dewi Suprabha untuk turun kebumi dijadikan sebagai umpan, karena suprabha sudah di incar-incar oleh Niwatakawaca, dlm perjalanan ke istana Raja Raksasa supraba ditemani oleh arjuna, mereka masuk keistana Raja namun Arjuna tidak menampakkan diri, Supraba disambut dengan gembira oleh raja Raksas tersebut dengan penuh nafsu birahi Niwatakawaca memaksa supraba untuk mau melayani nafsunya, namun dengan manisnya Rayuan supraba akhirnya diketahui kelemahan dari raja tersebut yaitu terletak pada ujung lidahnya. Arjuna mendengarnya dan langsung menampakkan dirai dari persembunyianyan dan membuat kegaduhan, akhirnya terjadilah pertempuran disana antar pasukan Para Deawa dan Raksasa, pada akhir pertempuran tersebut arjuna berhasil membunuh Raja raksasa tersebut dengan panah yang di anugrahi oleh Dewa siwa, dengan mengenai mulut raja Raksasa tersebut sampai menembus ujung lidahnya. Arjuna mendapat kan hadiah dari keberasilannya tersebut dengan mendapatkan hadiah tujuh bidadari sebagai istri, yaitu Supraba, tilotama dan lima bidadari lainnya.
ANALISIS:
Ajaran yang terdapat pada cerita diatas adalah ajaran ‘’POLITIK’’ dimana pada saat Arjuna mencari siasat bersama para dewa untuk mengalahkan raksasa yang bernama Niwatakawaca   karena Raksasa tersebut dapat dikalahkan apabila dapat mengetahui kelemahannya, dan akhirnya di utuslah dewi Suprabha untuk turun kebumi dijadikan sebagai umpan, karena suprabha sudah di incar-incar oleh Niwatakawaca, dalam perjalanan ke istana Raja Raksasa supraba ditemani oleh arjuna, mereka masuk keistana Raja namun Arjuna tidak menampakkan diri, Supraba disambut dengan gembira oleh raja Raksas tersebut dengan penuh nafsu birahi Niwatakawaca memaksa supraba untuk mau melayani nafsunya, namun dengan manisnya Rayuan supraba akhirnya diketahui kelemahan dari raja tersebut yaitu terletak pada ujung lidahnya. Arjuna mendengarnya dan langsung menampakkan dirai dari persembunyianyan dan membuat kegaduhan, akhirnya terjadilah pertempuran disana antar pasukan Para Deawa dan Raksasa, pada akhir pertempuran tersebut arjuna berhasil membunuh Raja raksasa tersebut dengan panah yang di anugrahi oleh Dewa siwa, dengan mengenai mulut raja Raksasa tersebut sampai menembus ujung lidahnya.

Tidak ada komentar: