Rabu, 24 Juli 2013
Senin, 08 Juli 2013
Kakawin Arjuna
Kakawin Arjuna Wiwaha merupakan kakawin yang didalamnya mengisahkan bahwa ada seorang Raksasa yang sangat sakti yang bernama Niwatakawaca, raksasa itu telah mempersiapkan diri untuk menyerang Surga, karena Raksasa tersebut tidak dapat dikalahkan oleh Dewa manapun, akhirnya Dewa Indra mengutus bantuan dari seorang manusia untuk menghadapi kesaktian Raksasa itu, orang tersebut adalah Arjuna, arjuna pada saat itu sedang bertapa di Gunung Indrakila, untuk dapat meyakinkan kekuatan arjuna meka Dewa indra mengutus dua bidadari untuk menguji tapa Arjuna bidadari itu adalah Suprabha dan Tilotama yang sangat cantik-cantik, namun usaha tersebut gagal karena Arjuna tidak berhasil di goda oleh mereka berdua. Lalu Dewa indra turun ke bumi dengan wujud seorang Tua Bijak menemui Arjuna, karena Dewa indra masih menyangsikan tujuan dari arjuna bertapa adalah seolah-olah untuk memperoleh ekuasaan dan kebahagiaan diri sendiri, maka Dewa indra dalam wujud Orang tua bijak menanyakan tujuan dari pada arjuna melakukan Tapa tersebut, ternyata merupakan salah satu tujuan yag sangat mulia, dan indra pun mengatakan siapa sebenarnya orang tua bijak tersebut adalah penyamara Dari Indra.
Raja para Raksasa sudah mendengar bagaimana keadaan di Gunung Indrakila, akhirnya mengutus seorang Raksasa untuk menggangu tapa dari Arjuna, dengan wujud seekor babi hutan digunung Indrakila babi itu membuat kakacauan dan akhirnya Arjuna bangun dan keluar dari gua dengan senjata panah, pada saat yang bersamaan Dewa siwa ada disana dengan wujud seorang pemburu dari salah satu sukuterasing, yaitu orang-orang kirata, panah arjuna dengan pemburu tersebut dengan bersamaan mengenai babi tersebut, sehingga terjadi perselisihan antara pamburu tersebut dengan pemburu yaitu memperebutkan siapa yang mengenai babi tersebut, sampai akhirnya Dewa Siwa menunjukkan Wujd aslinya yang berwujud Ardanariswara yaitu dewa yang setengah laki dan setengah perempuan diatas bunga teratai. Arjuna pun bersujud dan minta pengampunan dari beliau. Dan akhirnya Arjuna di anugrahi sebuah panah yang disebut Pasupati.
Setelah dewa siwa pergi, kemudian datanglah dua apsara yaitu “makhluk yang berwujud setengah dewa setengah manusia”, yang membawa sepucuk surat utusan dari dewa indra yang isinya adalah agar arjuna bersedia membantu dewa indra untuk bisa mengalahkan Niwatakawaca. Istana dewa indra arjuna beserta Para dewa membincang bagaimana cara mengalahkan Raksasa itu, karena Raksasa tersebut dapat dikalahkan apabila dapat mengetahui kelemahannya, dan akhirnya di utuslah dewi Suprabha untuk turun kebumi dijadikan sebagai umpan, karena suprabha sudah di incar-incar oleh Niwatakawaca, dlm perjalanan ke istana Raja Raksasa supraba ditemani oleh arjuna, mereka masuk keistana Raja namun Arjuna tidak menampakkan diri, Supraba disambut dengan gembira oleh raja Raksas tersebut dengan penuh nafsu birahi Niwatakawaca memaksa supraba untuk mau melayani nafsunya, namun dengan manisnya Rayuan supraba akhirnya diketahui kelemahan dari raja tersebut yaitu terletak pada ujung lidahnya. Arjuna mendengarnya dan langsung menampakkan dirai dari persembunyianyan dan membuat kegaduhan, akhirnya terjadilah pertempuran disana antar pasukan Para Deawa dan Raksasa, pada akhir pertempuran tersebut arjuna berhasil membunuh Raja raksasa tersebut dengan panah yang di anugrahi oleh Dewa siwa, dengan mengenai mulut raja Raksasa tersebut sampai menembus ujung lidahnya. Arjuna mendapat kan hadiah dari keberasilannya tersebut dengan mendapatkan hadiah tujuh bidadari sebagai istri, yaitu Supraba, tilotama dan lima bidadari lainnya.
Demikianlah cerita singakat dari cerita Arjuna Wiwaha apabila kita Hubungkan dengan ajaran agama Hindu arjuna di lambangkan kesatria yang bertapa demi mencapai tujuan dalam menaklukan musuh begitu juga di dalam kita menuntut ilmu pengetahuan hendaknya kita bisa menaklukan godaan .
Kakawin Arjuna Wiwaha merupakan kakawin yang didalamnya mengisahkan bahwa ada seorang Raksasa yang sangat sakti yang bernama Niwatakawaca, raksasa itu telah mempersiapkan diri untuk menyerang Surga, karena Raksasa tersebut tidak dapat dikalahkan oleh Dewa manapun, akhirnya Dewa Indra mengutus bantuan dari seorang manusia untuk menghadapi kesaktian Raksasa itu, orang tersebut adalah Arjuna, arjuna pada saat itu sedang bertapa di Gunung Indrakila, untuk dapat meyakinkan kekuatan arjuna meka Dewa indra mengutus dua bidadari untuk menguji tapa Arjuna bidadari itu adalah Suprabha dan Tilotama yang sangat cantik-cantik, namun usaha tersebut gagal karena Arjuna tidak berhasil di goda oleh mereka berdua. Lalu Dewa indra turun ke bumi dengan wujud seorang Tua Bijak menemui Arjuna, karena Dewa indra masih menyangsikan tujuan dari arjuna bertapa adalah seolah-olah untuk memperoleh ekuasaan dan kebahagiaan diri sendiri, maka Dewa indra dalam wujud Orang tua bijak menanyakan tujuan dari pada arjuna melakukan Tapa tersebut, ternyata merupakan salah satu tujuan yag sangat mulia, dan indra pun mengatakan siapa sebenarnya orang tua bijak tersebut adalah penyamara Dari Indra.
Raja para Raksasa sudah mendengar bagaimana keadaan di Gunung Indrakila, akhirnya mengutus seorang Raksasa untuk menggangu tapa dari Arjuna, dengan wujud seekor babi hutan digunung Indrakila babi itu membuat kakacauan dan akhirnya Arjuna bangun dan keluar dari gua dengan senjata panah, pada saat yang bersamaan Dewa siwa ada disana dengan wujud seorang pemburu dari salah satu sukuterasing, yaitu orang-orang kirata, panah arjuna dengan pemburu tersebut dengan bersamaan mengenai babi tersebut, sehingga terjadi perselisihan antara pamburu tersebut dengan pemburu yaitu memperebutkan siapa yang mengenai babi tersebut, sampai akhirnya Dewa Siwa menunjukkan Wujd aslinya yang berwujud Ardanariswara yaitu dewa yang setengah laki dan setengah perempuan diatas bunga teratai. Arjuna pun bersujud dan minta pengampunan dari beliau. Dan akhirnya Arjuna di anugrahi sebuah panah yang disebut Pasupati.
Setelah dewa siwa pergi, kemudian datanglah dua apsara yaitu “makhluk yang berwujud setengah dewa setengah manusia”, yang membawa sepucuk surat utusan dari dewa indra yang isinya adalah agar arjuna bersedia membantu dewa indra untuk bisa mengalahkan Niwatakawaca. Istana dewa indra arjuna beserta Para dewa membincang bagaimana cara mengalahkan Raksasa itu, karena Raksasa tersebut dapat dikalahkan apabila dapat mengetahui kelemahannya, dan akhirnya di utuslah dewi Suprabha untuk turun kebumi dijadikan sebagai umpan, karena suprabha sudah di incar-incar oleh Niwatakawaca, dlm perjalanan ke istana Raja Raksasa supraba ditemani oleh arjuna, mereka masuk keistana Raja namun Arjuna tidak menampakkan diri, Supraba disambut dengan gembira oleh raja Raksas tersebut dengan penuh nafsu birahi Niwatakawaca memaksa supraba untuk mau melayani nafsunya, namun dengan manisnya Rayuan supraba akhirnya diketahui kelemahan dari raja tersebut yaitu terletak pada ujung lidahnya. Arjuna mendengarnya dan langsung menampakkan dirai dari persembunyianyan dan membuat kegaduhan, akhirnya terjadilah pertempuran disana antar pasukan Para Deawa dan Raksasa, pada akhir pertempuran tersebut arjuna berhasil membunuh Raja raksasa tersebut dengan panah yang di anugrahi oleh Dewa siwa, dengan mengenai mulut raja Raksasa tersebut sampai menembus ujung lidahnya. Arjuna mendapat kan hadiah dari keberasilannya tersebut dengan mendapatkan hadiah tujuh bidadari sebagai istri, yaitu Supraba, tilotama dan lima bidadari lainnya.
Demikianlah cerita singakat dari cerita Arjuna Wiwaha apabila kita Hubungkan dengan ajaran agama Hindu arjuna di lambangkan kesatria yang bertapa demi mencapai tujuan dalam menaklukan musuh begitu juga di dalam kita menuntut ilmu pengetahuan hendaknya kita bisa menaklukan godaan .
Selasa, 02 Juli 2013
Kepemimpinan
KONSEP AJARAN
NITISASTRA YANG TERDAPAT DALAM SLOKA-SLOKA KEPEMIMPINAN
”Brahman
praptena samskaran ksatriyena yatha widhi, sarwasyasya yathanyaya kartawyam
pariraksanam” (Manawa Dharmasastra . VII. )
Artinya : Kesetriya
(pemimpin) yang telah menerima sakramen
menurut Veda , berkewajiban melindungi seluruh dunia dengan sebaik – baiknya .
Analisis : Sebagai
seorang pemimpin setiap umat memiliki kewajiban untuk menata ,mengarahkan dan
menggerakan orang–orang/ kelompoknya untuk beraktifitas guna mewujdkan
perlindungan ,kesejatraan.kebahagian dan keslamatan Negara dan bangsa yang
dipimpinya.Karena kalau orang –orang ini tanpa raja ( pemimpin ) akan terusir,
tersebar keseluruh penjuru oleh rasa
takut. Tuhan telah menciptakan raja ( pemimpin
untuk melindungi seluruh ciptaanya.
“Rtam
rtabhyam jiwetu prametena wa, satyanrtabhyamapi wana swawrttya kadacana “ (Manawa
Dharma sastra, IV.4).
Artinya : Ia hendaknya hidup dengan Rta ,amerta atau
dengan mrta dan dengan pramrta atau dengan cara yang di namai satya nrta tetapi
jangan sekali-sekali dengan swawrti.
Analisis:Dengan
Rta yang dimaksud adalah padi yang menguning ,dengan amrta dimasudkan adalah segala yang diberikan tanpa
di minta dan hasil pertanian yang dimaksud, adalah disebut pramerta .Konsepsi berbagai
kehidupan ini merupakan sumber inspirasi bagi pemimpin Negara untuk membangun negara
dan masyarakat.
“Sweswe
dharma niwistanam sarwesamapurwacah ,warnananmasara-manam ca raja srto,
bhiraksita” (Manawa Dharmasastra,VII.35)
Artinya : Raja pemimpin telah diciptakan untuk
melindungi warna dan aturanya yang semua itu menurut tingkat kedudukan mereka
melaksanakan tugas-tugas kewajiban mereka.
Analisis:Seorang pemimpin hendaknya dapat
melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan wewenanganya. Wewenang seorang pemimpin
adalah haknya untuk menggerakan orang-orang atau bawahanya untuk mau mengikuti
dan melaksanakan tugas-tugas yang diperintahnya.
“Ring janmadhika meta
reseping sarwa prajangenaka ,ring stri Madhya manohara prya wuwustangde manah kung lukit, yang ring
madhyanikang meseh mucapaken waksura singhakerti ( Niti sastra sargah 1.4).
Analisis : Orang yang terkemuka (Pemimpin) harus bias
mengambil had dan menyenangkan perasaan orang banyak ditengah –tengah wanita
harus mampu bicara yang dapat menimbulkan gairah (rasa cinta),dihadapan pendeta
harus bias dapat membicarakan tentang
Tatwa upadesa dan jika berhadapan musuh-musuhnya harus berani berbicara
dengan kata-kata yang menunjukan , keberanian seperti seekor singa yang ganas.
Demikianlah hendaknya seorang pemimpin dapat memilah-milah dan memilih hal-hal
mana saja yang baik dan membuang jauh-jauh yang bernilai buruk.
“Ikanang pratapa
dumilah, sukanikang rat ya teka ginawenya kadi bahni ring pahoman, Dumilah
mangde sukanikang rat” ( Kakawin Ramayana, 1.10 )
Analisis; Seorang yang
menjadi pemimpin hendaknya harus bias mensejatrakan rakyatnya sehingga dunia
menjadi senang situasi dan kondisi akan menjadi harmonis. Dan seorang pemimpin
hendaknya mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadinya.
“Guna manta sang
Dasaratha, wruh sira ring weda bhakti ring dewa, tar malupeng pitra puja, masih
ta sireng swagotra kabeh” (Kekawin Ramayana,13)
Artinya : Sangat utama
beliau Sang Dasaratha, Sri baginda ahkli weda (ilmu pengetahuan) dan sujud
bhakti kehadapan Tuhan ,tidaklah lupa beliau melaksanakan pemujaan kehadapan
Leluhurnya, Sri baginda sangat mencintai keluarga dan masyarakatnya.
Analisis: Karya sastra
tersebut diatas adalah merupakan salah satu bait kakawin yang memberikan
gambaran kepada kita tentang kesempurnaan prilaku seorang pemimpin Negara.
Seorang pemimpin Negara tidak hanya sibuk dengan urusan Negara yang dipimpinya,
tetapi ditengah-tengah kesibukanya memimpin Negara dia juga harus memberikan
peratian kepada agama yang dianut dan diyakininya, dengan melakukan pemujaan
kepada Tuhan dan Roh suci leluhur, serta meluwangkan waktunya untuk memberikan
kasih sayang kepada keluarga dan masyarakay yang dipimpinya. Bila kita
perhatikan penjelasan dari sastra diatas yang menjelaskan tentang penerapan
kehidupan bernegara, pertama-tama harus diterapkan oleh pemimpin Negara di
dalam diri pribadinya maupun keluarganya. Hal
ini dapat berarti bahwa kewibawaan pemimpin Negara harus didasarkan pada
kewibawaan yang murni dan bukan atas kewibawaan yang dilandasi oleh kekuasaan.
Agama Hindu di dalam sastra-sastranya memuat tentang berbagai macam
kewajiban-kewajiban warga negaranya, pemerintah atau pemimpin negaranya, dan
juga bebagai konsep tentang pembinaan bebagai aspek kehidupan social, ekonomi,
politik, keamanan dan pertahanan, seni budaya dan lain sebagainya. Tentang
cara-cara mempengaruhi masyarakat untuk tujuan positif, mendaptkan kekuasaan
untuk mengabdi, memajukan bidang-bidang duniawi juga diuraikan dalam
sastra-sastra Agama Hindu bukan hanya memuat tentang ajaran yang bersifat
rohkaniah namun juga yang bersifat duniawi,. Di dalam kitab Manawa Dharmasastra
ada disebutkan sebagai berikut:
“Rtam rtabhyam jiwettu
mrtena pramrtena wa, satyanrtabhyamapi wa na swawrttya kadacana” (Manawa
Dharmasastra, IV.4)
Analisis: Ia hendaknya
hidup dengan Rta amrta atau dengan mrta dan dengan pramrta atau dengan cara
yang dinamai satya nrta tetapi jangan sekali-kali dengan awawrti.Dengan Rta
yang dimaksud adalah padi yang mengunimg, dengan amrta dimaksudkan ialah segala
yang diberikan tanpa diminta, dengan mrta dimaksudkan ialah makanan yang
didapat dari meminta dan hasil pertanian yang dimaksud adalah yang disebut
pramrta. Konsepsi berbagai kehidupan ini
merupakan sumber inspirasi bagi pemimpin Negara untuk membangun Negara dsan
masyarakatya. Konsepsi ini pada umumnya bersifat sangat luwes sehingga ,mampu
menyerap dan mengembangkan konsep yang ada didalam Negara yang dipimpinya,
sepanjang diorientasikan terhadap Tuhan dengan segala ciptaanya. Demikianlah
ajaran kepemimpinan dalam sastra agama Hindu, ini sebagai awal yang nantinya
kita dapat membicarakan tentang fungsi pemimpin Hindu.
Kepemimpinan
KONSEP AJARAN
NITISASTRA YANG TERDAPAT DALAM SLOKA-SLOKA KEPEMIMPINAN
”Brahman
praptena samskaran ksatriyena yatha widhi, sarwasyasya yathanyaya kartawyam
pariraksanam” (Manawa Dharmasastra . VII. )
Artinya : Kesetriya
(pemimpin) yang telah menerima sakramen
menurut Veda , berkewajiban melindungi seluruh dunia dengan sebaik – baiknya .
Analisis : Sebagai
seorang pemimpin setiap umat memiliki kewajiban untuk menata ,mengarahkan dan
menggerakan orang–orang/ kelompoknya untuk beraktifitas guna mewujdkan
perlindungan ,kesejatraan.kebahagian dan keslamatan Negara dan bangsa yang
dipimpinya.Karena kalau orang –orang ini tanpa raja ( pemimpin ) akan terusir,
tersebar keseluruh penjuru oleh rasa
takut. Tuhan telah menciptakan raja ( pemimpin
untuk melindungi seluruh ciptaanya.
“Rtam
rtabhyam jiwetu prametena wa, satyanrtabhyamapi wana swawrttya kadacana “ (Manawa
Dharma sastra, IV.4).
Artinya : Ia hendaknya hidup dengan Rta ,amerta atau
dengan mrta dan dengan pramrta atau dengan cara yang di namai satya nrta tetapi
jangan sekali-sekali dengan swawrti.
Analisis:Dengan
Rta yang dimaksud adalah padi yang menguning ,dengan amrta dimasudkan adalah segala yang diberikan tanpa
di minta dan hasil pertanian yang dimaksud, adalah disebut pramerta .Konsepsi berbagai
kehidupan ini merupakan sumber inspirasi bagi pemimpin Negara untuk membangun negara
dan masyarakat.
“Sweswe
dharma niwistanam sarwesamapurwacah ,warnananmasara-manam ca raja srto,
bhiraksita” (Manawa Dharmasastra,VII.35)
Artinya : Raja pemimpin telah diciptakan untuk
melindungi warna dan aturanya yang semua itu menurut tingkat kedudukan mereka
melaksanakan tugas-tugas kewajiban mereka.
Analisis:Seorang pemimpin hendaknya dapat
melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan wewenanganya. Wewenang seorang pemimpin
adalah haknya untuk menggerakan orang-orang atau bawahanya untuk mau mengikuti
dan melaksanakan tugas-tugas yang diperintahnya.
“Ring janmadhika meta
reseping sarwa prajangenaka ,ring stri Madhya manohara prya wuwustangde manah kung lukit, yang ring
madhyanikang meseh mucapaken waksura singhakerti ( Niti sastra sargah 1.4).
Analisis : Orang yang terkemuka (Pemimpin) harus bias
mengambil had dan menyenangkan perasaan orang banyak ditengah –tengah wanita
harus mampu bicara yang dapat menimbulkan gairah (rasa cinta),dihadapan pendeta
harus bias dapat membicarakan tentang
Tatwa upadesa dan jika berhadapan musuh-musuhnya harus berani berbicara
dengan kata-kata yang menunjukan , keberanian seperti seekor singa yang ganas.
Demikianlah hendaknya seorang pemimpin dapat memilah-milah dan memilih hal-hal
mana saja yang baik dan membuang jauh-jauh yang bernilai buruk.
“Ikanang pratapa
dumilah, sukanikang rat ya teka ginawenya kadi bahni ring pahoman, Dumilah
mangde sukanikang rat” ( Kakawin Ramayana, 1.10 )
Analisis; Seorang yang
menjadi pemimpin hendaknya harus bias mensejatrakan rakyatnya sehingga dunia
menjadi senang situasi dan kondisi akan menjadi harmonis. Dan seorang pemimpin
hendaknya mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadinya.
“Guna manta sang
Dasaratha, wruh sira ring weda bhakti ring dewa, tar malupeng pitra puja, masih
ta sireng swagotra kabeh” (Kekawin Ramayana,13)
Artinya : Sangat utama
beliau Sang Dasaratha, Sri baginda ahkli weda (ilmu pengetahuan) dan sujud
bhakti kehadapan Tuhan ,tidaklah lupa beliau melaksanakan pemujaan kehadapan
Leluhurnya, Sri baginda sangat mencintai keluarga dan masyarakatnya.
Analisis: Karya sastra
tersebut diatas adalah merupakan salah satu bait kakawin yang memberikan
gambaran kepada kita tentang kesempurnaan prilaku seorang pemimpin Negara.
Seorang pemimpin Negara tidak hanya sibuk dengan urusan Negara yang dipimpinya,
tetapi ditengah-tengah kesibukanya memimpin Negara dia juga harus memberikan
peratian kepada agama yang dianut dan diyakininya, dengan melakukan pemujaan
kepada Tuhan dan Roh suci leluhur, serta meluwangkan waktunya untuk memberikan
kasih sayang kepada keluarga dan masyarakay yang dipimpinya. Bila kita
perhatikan penjelasan dari sastra diatas yang menjelaskan tentang penerapan
kehidupan bernegara, pertama-tama harus diterapkan oleh pemimpin Negara di
dalam diri pribadinya maupun keluarganya. Hal
ini dapat berarti bahwa kewibawaan pemimpin Negara harus didasarkan pada
kewibawaan yang murni dan bukan atas kewibawaan yang dilandasi oleh kekuasaan.
Agama Hindu di dalam sastra-sastranya memuat tentang berbagai macam
kewajiban-kewajiban warga negaranya, pemerintah atau pemimpin negaranya, dan
juga bebagai konsep tentang pembinaan bebagai aspek kehidupan social, ekonomi,
politik, keamanan dan pertahanan, seni budaya dan lain sebagainya. Tentang
cara-cara mempengaruhi masyarakat untuk tujuan positif, mendaptkan kekuasaan
untuk mengabdi, memajukan bidang-bidang duniawi juga diuraikan dalam
sastra-sastra Agama Hindu bukan hanya memuat tentang ajaran yang bersifat
rohkaniah namun juga yang bersifat duniawi,. Di dalam kitab Manawa Dharmasastra
ada disebutkan sebagai berikut:
“Rtam rtabhyam jiwettu
mrtena pramrtena wa, satyanrtabhyamapi wa na swawrttya kadacana” (Manawa
Dharmasastra, IV.4)
Analisis: Ia hendaknya
hidup dengan Rta amrta atau dengan mrta dan dengan pramrta atau dengan cara
yang dinamai satya nrta tetapi jangan sekali-kali dengan awawrti.Dengan Rta
yang dimaksud adalah padi yang mengunimg, dengan amrta dimaksudkan ialah segala
yang diberikan tanpa diminta, dengan mrta dimaksudkan ialah makanan yang
didapat dari meminta dan hasil pertanian yang dimaksud adalah yang disebut
pramrta. Konsepsi berbagai kehidupan ini
merupakan sumber inspirasi bagi pemimpin Negara untuk membangun Negara dsan
masyarakatya. Konsepsi ini pada umumnya bersifat sangat luwes sehingga ,mampu
menyerap dan mengembangkan konsep yang ada didalam Negara yang dipimpinya,
sepanjang diorientasikan terhadap Tuhan dengan segala ciptaanya. Demikianlah
ajaran kepemimpinan dalam sastra agama Hindu, ini sebagai awal yang nantinya
kita dapat membicarakan tentang fungsi pemimpin Hindu.
Kepemimpinan
Konsep ajaran Nitisastra yang terdapat dalam bentuk Cerita yaitu :
1. Dalam cerita Mahabharata ( Adiparwa ).
Yaitu pada
saat Raja Sentanu mengangkat Dewa Bharata atau Bhisma untuk menjadi putra
mahkota mendampingi ayahnya sebelum resmi mengundurkan diri. Suatu ketika raja
Sentanu jatuh cinta dengan Satyawati, Satyawati mau dikawini kalau anak dari
perkawinannya dapat naik tahta. Agar perkawinan itu bisa berlangsung Dewa
Bharata (Bhisma) melepaskan haknya menjadi raja dan bersumpah untuk tidak akan
kawin, agar tahta kelak tidak diperebutkan oleh keturunannya.
Dari
cerita diatas Bhisma adalah tokoh yang sangat hormat kepada orang tuanya, yang
terbukti dari pilihannya untuk melepaskan haknya sebagai raja, agar ayahnya
bisa kawin dengan Satyawati, dalam peristiwa ini Bhisma ini adalah profil tokoh
yang berani mengambil resiko, karena memang dia tahu bahwa hidup ini kadang –
kadang harus menghadapi suatu resiko atau berhadapan dengan hal – hal yang
tidak mengenakkan. Setiap keputusan ada resikonya, konsekwensinya pasti akan
timbul kecemasan. Namun kalau tidak berani mengambil resiko, berarti manusia
itu telah meniadakan eksistensinya sendiri. Dari hal tersebut tergambar bahwa
Bhisma adalah tokoh yang mampu melihat akibat jauh dari keputusannya. Jadi
disini hendaknya seorang pemimpin dapat meniru hal yang dilakukan oleh Bhisma
yaitu ia berani mengambil keputusan dan mengambil resiko serta dapat melihat
akibat jauh dari keputusan yang diambilnya.
2. Dalam cerita Ramayana ( Ayodhyakanda ).
Yaitu
pada saat Sang Dasaratha yang merasa dirinya sudah tua, karenanya ia hendak
menyerahkan mahkotanya kepada Rama. Datanglah Kaikeyi yang mengingatkan
Dasaratha, bahwa ia masih berhak mengajukan permintaan yang mesti dikabulkan
oleh raja. Pertama Kaikeyi minta bukan Rama yang diangkat menjadi raja
melainkan anaknya yaitu Bharata. Permintaan yang kedua supaya Rama dibuang ke
hutan selama 14 tahun. Dasaratha memang pernah berjanji kepada Kaikeyi yaitu
meluluskan dua permintaan atas imbalan jasanya yang telah menyelamatkan dirinya
dari bahaya serangan musuh. Hanya saja Kaikeyi belum mengemukakan permintaannya
dan baru ditagih menjelang penobatan Rama menjadi raja. Dasaratha menjadi
sangat sedih, sebab terombang – ambing antara kecintaannya kepada Rama dan di
pihak lain ia pun harus setia kepada janjinya.
Dari
cerita diatas, dapat ditarik suatu hal yaitu seorang pemimpin harus setia pada
janji yang pernah ia katakan. Seorang pemimpin harus menepati janji dan
hendaknya tidak mengobral janji kepada siapapun. Seperti cerita di atas Sang
Dasaratha menepati janjinya kepada Kaikeyi walaupun ia berat untuk meluluskan
janji yang pernah ia janjipada Kaikeyi.
3. Dalam cerita Ramayana ( Balakanda ).
Yaitu
pada saat Rsi Wiswamitra yang meminta agar Rama dan Laksmana menjaga pertapaan yang sering diganggu oleh
para raksasa. Akhirnya Rama dan Laksmana berangkat mengikuti Rsi Wiswamitra.
Rama dan Laksmana berhasil menunaikan tugasnya dengan baik. Para raksasa yang
menyerang pertapaan misalnya dipimpin oleh Marica berhasil dikalahkan, bahkan
banyak raksasa yang tewas. Karena itu pertapaan menjadi aman, sehingga para
petapa dapat melaksanakan kembali ibadahnya dengan baik.
Dari
cerita di atas, seorang pemimpin seharusnya dapat memberikan rasa aman kepada
rakyatnya. Dapat menyelamatkan rakyatnya dari musuh – musuh yang menyerang negara yang ia pimpin, dan
seorang pemimpin harus menjalankan tugas, kewajiban dan wewenangnya dengan
baik.
4. Dalam Kekawin
Arjuna Wiwaha
Dikisahkan
bahwa ada seorang Raksasa yang sangat sakti yang bernama Niwatakawaca, raksasa
itu telah mempersiapkan diri untuk menyerang Surga, karena Raksasa tersebut
tidak dapat dikalahkan oleh Dewa manapun, akhirnya Dewa Indra mengutus bantuan
dari seorang manusia untuk menghadapi kesaktian Raksasa itu, orang tersebut
adalah Arjuna, arjuna pada saat itu sedang bertapa di Gunung Indrakila, untuk
dapat meyakinkan kekuatan arjuna meka Dewa indra mengutus dua bidadari untuk
menguji tapa Arjuna bidadari itu adalah Suprabha dan Tilotama yang sangat
cantik-cantik, namun usaha tersebut gagal karena Arjuna tidak berhasil di goda
oleh mereka berdua. Lalu Dewa indra turun ke bumi dengan wujud seorang Tua
Bijak menemui Arjuna, karena Dewa indra masih menyangsikan tujuan dari arjuna
bertapa adalah seolah-olah untuk memperoleh kekuasaan dan kebahagiaan diri
sendiri, maka Dewa indra dalam wujud Orang tua bijak menanyakan tujuan dari
pada arjuna melakukan Tapa tersebut, ternyata merupakan salah satu tujuan yag
sangat mulia, dan indra pun mengatakan siapa sebenarnya orang tua bijak
tersebut adalah penyamara Dari Indra.
Raja
para Raksasa sudah mendengar bagaimana keadaan di Gunung Indrakila, akhirnya
mengutus seorang Raksasa untuk menggangu tapa dari Arjuna, dengan wujud seekor
babi hutan digunung Indrakila babi itu
membuat kakacauan dan akhirnya Arjuna bangun dan keluar dari gua dengan senjata
panah, pada saat yang bersamaan Dewa siwa ada disana dengan wujud seorang
pemburu dari salah satu sukuterasing, yaitu orang-orang kirata, panah arjuna
dengan pemburu tersebut dengan bersamaan mengenai babi tersebut, sehingga
terjadi perselisihan antara pamburu tersebut dengan pemburu yaitu memperebutkan
siapa yang mengenai babi tersebut, sampai akhirnya Dewa Siwa menunjukkan Wujd
aslinya yang berwujud Ardanariswara yaitu dewa yang setengah laki dan setengah
perempuan diatas bunga teratai. Arjuna pun bersujud dan minta pengampunan dari
beliau. Dan akhirnya Arjuna di anugrahi sebuah panah yang disebut Pasupati.
Setelah
dewa siwa pergi, kemudian datanglah dua
apsara yaitu “makhluk yang berwujud setengah dewa setengah manusia”, yang
membawa sepucuk surat utusan dari dewa indra yang isinya adalah agar arjuna
bersedia membantu dewa indra untuk bisa mengalahkan Niwatakawaca. Istana dewa
indra arjuna beserta Para dewa membincang bagaimana cara mengalahkan Raksasa
itu, karena Raksasa tersebut dapat dikalahkan apabila dapat mengetahui
kelemahannya, dan akhirnya di utuslah dewi Suprabha untuk turun kebumi
dijadikan sebagai umpan, karena suprabha sudah di incar-incar oleh
Niwatakawaca, dlm perjalanan ke istana Raja Raksasa supraba ditemani oleh
arjuna, mereka masuk keistana Raja namun Arjuna tidak menampakkan diri, Supraba
disambut dengan gembira oleh raja Raksas tersebut dengan penuh nafsu birahi Niwatakawaca
memaksa supraba untuk mau melayani nafsunya, namun dengan manisnya Rayuan
supraba akhirnya diketahui kelemahan dari raja tersebut yaitu terletak pada
ujung lidahnya. Arjuna mendengarnya dan langsung menampakkan dirai dari
persembunyianyan dan membuat kegaduhan, akhirnya terjadilah pertempuran disana
antar pasukan Para Deawa dan Raksasa, pada akhir pertempuran tersebut arjuna
berhasil membunuh Raja raksasa tersebut dengan panah yang di anugrahi oleh Dewa
siwa, dengan mengenai mulut raja Raksasa tersebut sampai menembus ujung
lidahnya. Arjuna mendapat kan hadiah dari keberasilannya tersebut dengan
mendapatkan hadiah tujuh bidadari sebagai istri, yaitu Supraba, tilotama dan
lima bidadari lainnya.
ANALISIS:
Ajaran
yang terdapat pada cerita diatas adalah ajaran ‘’POLITIK’’ dimana pada saat
Arjuna mencari siasat bersama para dewa untuk mengalahkan raksasa yang bernama
Niwatakawaca karena Raksasa tersebut
dapat dikalahkan apabila dapat mengetahui kelemahannya, dan akhirnya di utuslah
dewi Suprabha untuk turun kebumi dijadikan sebagai umpan, karena suprabha sudah
di incar-incar oleh Niwatakawaca, dalam perjalanan ke istana Raja Raksasa
supraba ditemani oleh arjuna, mereka masuk keistana Raja namun Arjuna tidak
menampakkan diri, Supraba disambut dengan gembira oleh raja Raksas tersebut
dengan penuh nafsu birahi Niwatakawaca memaksa supraba untuk mau melayani
nafsunya, namun dengan manisnya Rayuan supraba akhirnya diketahui kelemahan
dari raja tersebut yaitu terletak pada ujung lidahnya. Arjuna mendengarnya dan
langsung menampakkan dirai dari persembunyianyan dan membuat kegaduhan,
akhirnya terjadilah pertempuran disana antar pasukan Para Deawa dan Raksasa,
pada akhir pertempuran tersebut arjuna berhasil membunuh Raja raksasa tersebut
dengan panah yang di anugrahi oleh Dewa siwa, dengan mengenai mulut raja
Raksasa tersebut sampai menembus ujung lidahnya.
Langganan:
Komentar (Atom)