Selasa, 02 Juli 2013

Kepemimpinan


                          

KONSEP AJARAN NITISASTRA YANG TERDAPAT DALAM SLOKA-SLOKA KEPEMIMPINAN


”Brahman praptena samskaran ksatriyena yatha widhi, sarwasyasya yathanyaya kartawyam pariraksanam” (Manawa Dharmasastra . VII. )

Artinya : Kesetriya (pemimpin) yang telah menerima sakramen  menurut Veda , berkewajiban melindungi  seluruh dunia dengan sebaik – baiknya .
Analisis : Sebagai seorang pemimpin setiap umat memiliki kewajiban untuk menata ,mengarahkan dan menggerakan orang–orang/ kelompoknya untuk beraktifitas guna mewujdkan perlindungan ,kesejatraan.kebahagian dan keslamatan Negara dan bangsa yang dipimpinya.Karena kalau orang –orang ini tanpa raja ( pemimpin ) akan terusir, tersebar keseluruh penjuru  oleh rasa takut. Tuhan telah menciptakan raja ( pemimpin  untuk melindungi seluruh ciptaanya.

“Rtam rtabhyam jiwetu prametena wa, satyanrtabhyamapi wana swawrttya kadacana “ (Manawa Dharma sastra, IV.4).

Artinya : Ia hendaknya hidup dengan Rta ,amerta atau dengan mrta dan dengan pramrta atau dengan cara yang di namai satya nrta tetapi jangan sekali-sekali dengan swawrti.
Analisis:Dengan  Rta yang dimaksud adalah padi yang menguning ,dengan amrta  dimasudkan adalah segala yang diberikan tanpa di minta dan hasil pertanian yang dimaksud,  adalah disebut pramerta .Konsepsi berbagai kehidupan ini merupakan sumber inspirasi bagi pemimpin Negara untuk membangun negara  dan masyarakat.

“Sweswe dharma niwistanam sarwesamapurwacah ,warnananmasara-manam ca raja srto, bhiraksita” (Manawa Dharmasastra,VII.35)

Artinya : Raja pemimpin telah diciptakan untuk melindungi warna dan aturanya yang semua itu menurut tingkat kedudukan mereka melaksanakan tugas-tugas kewajiban mereka.
Analisis:Seorang pemimpin hendaknya dapat melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan wewenanganya. Wewenang seorang pemimpin adalah haknya untuk menggerakan orang-orang atau bawahanya untuk mau mengikuti dan melaksanakan tugas-tugas yang diperintahnya.

“Ring janmadhika meta reseping sarwa prajangenaka ,ring stri Madhya manohara prya  wuwustangde manah kung lukit, yang ring madhyanikang meseh mucapaken waksura singhakerti ( Niti sastra sargah 1.4).
Analisis : Orang  yang terkemuka (Pemimpin) harus bias mengambil had dan menyenangkan perasaan orang banyak ditengah –tengah wanita harus mampu bicara yang dapat menimbulkan gairah (rasa cinta),dihadapan pendeta harus bias dapat membicarakan tentang  Tatwa upadesa dan jika berhadapan musuh-musuhnya harus berani berbicara dengan kata-kata yang menunjukan , keberanian seperti seekor singa yang ganas. Demikianlah hendaknya seorang pemimpin dapat memilah-milah dan memilih hal-hal mana saja yang baik dan membuang jauh-jauh yang bernilai buruk.
“Ikanang pratapa dumilah, sukanikang rat ya teka ginawenya kadi bahni ring pahoman, Dumilah mangde sukanikang rat” ( Kakawin Ramayana, 1.10 )
Analisis; Seorang yang menjadi pemimpin hendaknya harus bias mensejatrakan rakyatnya sehingga dunia menjadi senang situasi dan kondisi akan menjadi harmonis. Dan seorang pemimpin hendaknya mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadinya.
“Guna manta sang Dasaratha, wruh sira ring weda bhakti ring dewa, tar malupeng pitra puja, masih ta sireng swagotra kabeh” (Kekawin Ramayana,13)
Artinya : Sangat utama beliau Sang Dasaratha, Sri baginda ahkli weda (ilmu pengetahuan) dan sujud bhakti kehadapan Tuhan ,tidaklah lupa beliau melaksanakan pemujaan kehadapan Leluhurnya, Sri baginda sangat mencintai keluarga dan masyarakatnya.
Analisis: Karya sastra tersebut diatas adalah merupakan salah satu bait kakawin yang memberikan gambaran kepada kita tentang kesempurnaan prilaku seorang pemimpin Negara. Seorang pemimpin Negara tidak hanya sibuk dengan urusan Negara yang dipimpinya, tetapi ditengah-tengah kesibukanya memimpin Negara dia juga harus memberikan peratian kepada agama yang dianut dan diyakininya, dengan melakukan pemujaan kepada Tuhan dan Roh suci leluhur, serta meluwangkan waktunya untuk memberikan kasih sayang kepada keluarga dan masyarakay yang dipimpinya. Bila kita perhatikan penjelasan dari sastra diatas yang menjelaskan tentang penerapan kehidupan bernegara, pertama-tama harus diterapkan oleh pemimpin Negara di dalam diri pribadinya maupun keluarganya. Hal  ini dapat berarti bahwa kewibawaan pemimpin Negara harus didasarkan pada kewibawaan yang murni dan bukan atas kewibawaan yang dilandasi oleh kekuasaan. Agama Hindu di dalam sastra-sastranya memuat tentang berbagai macam kewajiban-kewajiban warga negaranya, pemerintah atau pemimpin negaranya, dan juga bebagai konsep tentang pembinaan bebagai aspek kehidupan social, ekonomi, politik, keamanan dan pertahanan, seni budaya dan lain sebagainya. Tentang cara-cara mempengaruhi masyarakat untuk tujuan positif, mendaptkan kekuasaan untuk mengabdi, memajukan bidang-bidang duniawi juga diuraikan dalam sastra-sastra Agama Hindu bukan hanya memuat tentang ajaran yang bersifat rohkaniah namun juga yang bersifat duniawi,. Di dalam kitab Manawa Dharmasastra ada disebutkan sebagai berikut:
“Rtam rtabhyam jiwettu mrtena pramrtena wa, satyanrtabhyamapi wa na swawrttya kadacana” (Manawa Dharmasastra, IV.4)
Analisis: Ia hendaknya hidup dengan Rta amrta atau dengan mrta dan dengan pramrta atau dengan cara yang dinamai satya nrta tetapi jangan sekali-kali dengan awawrti.Dengan Rta yang dimaksud adalah padi yang mengunimg, dengan amrta dimaksudkan ialah segala yang diberikan tanpa diminta, dengan mrta dimaksudkan ialah makanan yang didapat dari meminta dan hasil pertanian yang dimaksud adalah yang disebut pramrta. Konsepsi berbagai kehidupan  ini merupakan sumber inspirasi bagi pemimpin Negara untuk membangun Negara dsan masyarakatya. Konsepsi ini pada umumnya bersifat sangat luwes sehingga ,mampu menyerap dan mengembangkan konsep yang ada didalam Negara yang dipimpinya, sepanjang diorientasikan terhadap Tuhan dengan segala ciptaanya. Demikianlah ajaran kepemimpinan dalam sastra agama Hindu, ini sebagai awal yang nantinya kita dapat membicarakan tentang fungsi pemimpin Hindu.



Tidak ada komentar: