KONSEP AJARAN
NITISASTRA YANG TERDAPAT DALAM SLOKA-SLOKA KEPEMIMPINAN
”Brahman
praptena samskaran ksatriyena yatha widhi, sarwasyasya yathanyaya kartawyam
pariraksanam” (Manawa Dharmasastra . VII. )
Artinya : Kesetriya
(pemimpin) yang telah menerima sakramen
menurut Veda , berkewajiban melindungi seluruh dunia dengan sebaik – baiknya .
Analisis : Sebagai
seorang pemimpin setiap umat memiliki kewajiban untuk menata ,mengarahkan dan
menggerakan orang–orang/ kelompoknya untuk beraktifitas guna mewujdkan
perlindungan ,kesejatraan.kebahagian dan keslamatan Negara dan bangsa yang
dipimpinya.Karena kalau orang –orang ini tanpa raja ( pemimpin ) akan terusir,
tersebar keseluruh penjuru oleh rasa
takut. Tuhan telah menciptakan raja ( pemimpin
untuk melindungi seluruh ciptaanya.
“Rtam
rtabhyam jiwetu prametena wa, satyanrtabhyamapi wana swawrttya kadacana “ (Manawa
Dharma sastra, IV.4).
Artinya : Ia hendaknya hidup dengan Rta ,amerta atau
dengan mrta dan dengan pramrta atau dengan cara yang di namai satya nrta tetapi
jangan sekali-sekali dengan swawrti.
Analisis:Dengan
Rta yang dimaksud adalah padi yang menguning ,dengan amrta dimasudkan adalah segala yang diberikan tanpa
di minta dan hasil pertanian yang dimaksud, adalah disebut pramerta .Konsepsi berbagai
kehidupan ini merupakan sumber inspirasi bagi pemimpin Negara untuk membangun negara
dan masyarakat.
“Sweswe
dharma niwistanam sarwesamapurwacah ,warnananmasara-manam ca raja srto,
bhiraksita” (Manawa Dharmasastra,VII.35)
Artinya : Raja pemimpin telah diciptakan untuk
melindungi warna dan aturanya yang semua itu menurut tingkat kedudukan mereka
melaksanakan tugas-tugas kewajiban mereka.
Analisis:Seorang pemimpin hendaknya dapat
melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan wewenanganya. Wewenang seorang pemimpin
adalah haknya untuk menggerakan orang-orang atau bawahanya untuk mau mengikuti
dan melaksanakan tugas-tugas yang diperintahnya.
“Ring janmadhika meta
reseping sarwa prajangenaka ,ring stri Madhya manohara prya wuwustangde manah kung lukit, yang ring
madhyanikang meseh mucapaken waksura singhakerti ( Niti sastra sargah 1.4).
Analisis : Orang yang terkemuka (Pemimpin) harus bias
mengambil had dan menyenangkan perasaan orang banyak ditengah –tengah wanita
harus mampu bicara yang dapat menimbulkan gairah (rasa cinta),dihadapan pendeta
harus bias dapat membicarakan tentang
Tatwa upadesa dan jika berhadapan musuh-musuhnya harus berani berbicara
dengan kata-kata yang menunjukan , keberanian seperti seekor singa yang ganas.
Demikianlah hendaknya seorang pemimpin dapat memilah-milah dan memilih hal-hal
mana saja yang baik dan membuang jauh-jauh yang bernilai buruk.
“Ikanang pratapa
dumilah, sukanikang rat ya teka ginawenya kadi bahni ring pahoman, Dumilah
mangde sukanikang rat” ( Kakawin Ramayana, 1.10 )
Analisis; Seorang yang
menjadi pemimpin hendaknya harus bias mensejatrakan rakyatnya sehingga dunia
menjadi senang situasi dan kondisi akan menjadi harmonis. Dan seorang pemimpin
hendaknya mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadinya.
“Guna manta sang
Dasaratha, wruh sira ring weda bhakti ring dewa, tar malupeng pitra puja, masih
ta sireng swagotra kabeh” (Kekawin Ramayana,13)
Artinya : Sangat utama
beliau Sang Dasaratha, Sri baginda ahkli weda (ilmu pengetahuan) dan sujud
bhakti kehadapan Tuhan ,tidaklah lupa beliau melaksanakan pemujaan kehadapan
Leluhurnya, Sri baginda sangat mencintai keluarga dan masyarakatnya.
Analisis: Karya sastra
tersebut diatas adalah merupakan salah satu bait kakawin yang memberikan
gambaran kepada kita tentang kesempurnaan prilaku seorang pemimpin Negara.
Seorang pemimpin Negara tidak hanya sibuk dengan urusan Negara yang dipimpinya,
tetapi ditengah-tengah kesibukanya memimpin Negara dia juga harus memberikan
peratian kepada agama yang dianut dan diyakininya, dengan melakukan pemujaan
kepada Tuhan dan Roh suci leluhur, serta meluwangkan waktunya untuk memberikan
kasih sayang kepada keluarga dan masyarakay yang dipimpinya. Bila kita
perhatikan penjelasan dari sastra diatas yang menjelaskan tentang penerapan
kehidupan bernegara, pertama-tama harus diterapkan oleh pemimpin Negara di
dalam diri pribadinya maupun keluarganya. Hal
ini dapat berarti bahwa kewibawaan pemimpin Negara harus didasarkan pada
kewibawaan yang murni dan bukan atas kewibawaan yang dilandasi oleh kekuasaan.
Agama Hindu di dalam sastra-sastranya memuat tentang berbagai macam
kewajiban-kewajiban warga negaranya, pemerintah atau pemimpin negaranya, dan
juga bebagai konsep tentang pembinaan bebagai aspek kehidupan social, ekonomi,
politik, keamanan dan pertahanan, seni budaya dan lain sebagainya. Tentang
cara-cara mempengaruhi masyarakat untuk tujuan positif, mendaptkan kekuasaan
untuk mengabdi, memajukan bidang-bidang duniawi juga diuraikan dalam
sastra-sastra Agama Hindu bukan hanya memuat tentang ajaran yang bersifat
rohkaniah namun juga yang bersifat duniawi,. Di dalam kitab Manawa Dharmasastra
ada disebutkan sebagai berikut:
“Rtam rtabhyam jiwettu
mrtena pramrtena wa, satyanrtabhyamapi wa na swawrttya kadacana” (Manawa
Dharmasastra, IV.4)
Analisis: Ia hendaknya
hidup dengan Rta amrta atau dengan mrta dan dengan pramrta atau dengan cara
yang dinamai satya nrta tetapi jangan sekali-kali dengan awawrti.Dengan Rta
yang dimaksud adalah padi yang mengunimg, dengan amrta dimaksudkan ialah segala
yang diberikan tanpa diminta, dengan mrta dimaksudkan ialah makanan yang
didapat dari meminta dan hasil pertanian yang dimaksud adalah yang disebut
pramrta. Konsepsi berbagai kehidupan ini
merupakan sumber inspirasi bagi pemimpin Negara untuk membangun Negara dsan
masyarakatya. Konsepsi ini pada umumnya bersifat sangat luwes sehingga ,mampu
menyerap dan mengembangkan konsep yang ada didalam Negara yang dipimpinya,
sepanjang diorientasikan terhadap Tuhan dengan segala ciptaanya. Demikianlah
ajaran kepemimpinan dalam sastra agama Hindu, ini sebagai awal yang nantinya
kita dapat membicarakan tentang fungsi pemimpin Hindu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar